Saturday, April 19th, 2014

NKRI

Published on March 15, 2011     Penulis :   ·   No Comments

Aceh kini bukan hanya sebuah daerah yang dirajang perang, tapi juga sejumlah pertanyaan. Pertanyaan itu semuanya berkait dengan apa sebenarnya sebuah “Indonesia”—ya, apa sebenarnya “Indonesia” yang hendak dipertahankan.

Kata para jenderal dan politikus, keutuhan wilayah itulah yang harus dibela. Tapi apa arti “wilayah” sebuah negeri? Apa pula “keutuhan” itu? Kita acap lupa “wilayah” adalah sebuah tempat dalam ilmu bumi, yang terbentang antara sekian garis lintang dan sekian garis bujur. Ia sebuah ruang. Dalam riwayatnya yang panjang manusia membela ruang itu sebagai membela milik sendiri, tapi dalam hal “Indonesia”, apa artinya “milik”?

“Milik” pada akhirnya berarti kekuasaan, dan kekuasaan itu bergerak dalam sejarah. Seandainya Raffles, orang Inggris itu, terus berkuasa di Jawa dan tak menyerahkan pulau ini kepada Belanda pada tahun 1816, mungkin Singapura yang kemudian didirikannya akan jadi bagian dari sebuah wilayah yang kini disebut “Indonesia”. Atau sebaliknya: bisa juga Yogyakarta akan termasuk sebuah negeri yang disebut “Singapura”. Perang dan perdagangan—kedua-duanya bukan sesuatu yang sakral—yang membuat dan menetapkan peta bumi. Benarkah “wilayah” begitu berarti hingga hal-hal yang lain boleh dikorbankan? Benarkah begitu penting “keutuhan”?

“Keutuhan”—kata ini pun tak pasti benar dari mana datangnya. Yang jelas, ia mencakup pengertian yang lebih luas ketimbang sekadar ketentuan tapal batas. “Keutuhan” bukan sekadar persoalan teritorial. Ia juga bisa berarti sumber alam dan keseimbangan ekologi, termasuk hutan tropis yang hijau dan biodiversitas hewan yang hidup, juga para penghuni, kehidupan sosial, dan khazanah kebudayaan mereka. Apa artinya “keutuhan” yang dipertahankan bila hutan jadi terbakar, sawah dan lumbung hancur, dan suatu masyarakat berantakan? Apa artinya “keutuhan” jika kelompok manusia yang berbeda saling membunuh dan mengusir?

Tapi mungkin juga yang hendak dipertahankan adalah sebuah “Indonesia” sebagai ingatan yang berharga. Sejak kita kanak-kanak, kita diberi rasa bangga akan sebuah negeri yang terbentang dari “Sabang sampai Merauke”, tentang orang-orang Aceh yang menyumbangkan yang mereka miliki buat Republik Indonesia yang baru berdiri, tentang kolonialisme Belanda yang justru mempersatukan pelbagai orang di Nusantara.

Kenangan itu sangat intim. Ia bagian dari identitas kita. Tapi setiap catatan dari masa lalu selalu mengandung apa yang luhur dan juga apa yang brutal, apa yang mengharukan dan juga apa yang mengerikan, bahkan memuakkan. Kenangan tentang sebuah “Indonesia” dapat berisi dokumen yang merekam niat mulia yang hendak menjabat tangan orang lain yang berbeda—niat yang membuat Sumpah Pemuda pada tahun 1928 terjadi dan sebuah generasi baru dengan ikhlas melupakan ikatan kesetiaan lama mereka, untuk membangun sebuah ikatan kesetiaan baru.

Tapi sejarah persatuan itu juga dapat berupa sejarah ketidak-ikhlasan. Bahkan sejarah kekerasan, pemaksaan, dan penyeragaman. Itulah sebabnya Bung Hatta pernah memperingatkan agar “per-satu-an” dibedakan dari “per-sate-an”.

Maka, sebuah “Indonesia” yang manakah yang hendak kita pertahankan?

Saya termasuk mereka yang akan menjawab: sebuah “Indonesia” yang dengan Aceh ada di dalamnya, tapi bukan sebuah NKRI (singkatan yang kaku dari “Negara Kesatuan Republik Indonesia”), yang memaksa Aceh untuk berada di dalamnya. Saya akan menangis bila Aceh terlepas dari Republik. Tapi saya juga akan menangis bila Aceh dibungkam oleh mereka yang datang atas nama Republik. “Indonesia” yang utuh adalah Indonesia yang punya cita-cita yang berharga untuk utuh.

Amerika Serikat adalah contoh yang tak menarik pada hari-hari ini, tapi dulu, pada pertengahan abad ke-19, ketika sebagian wilayah republik itu hendak memisahkan diri, seorang presiden yang kurus dan arif terpaksa mengirim tentara untuk memadamkan “pemberontakan” itu. Tapi bukan karena takut akan hilangnya sekian ribu kilometer persegi tanah. Ada yang lebih penting ketimbang keutuhan wilayah—yakni keutuhan sebuah cita-cita yang layak.

Maka, ketika sejumlah negara bagian di Selatan menjadi kekuatan separatis karena ingin melanjutkan perbudakan, Presiden Lincoln memutuskan: mereka harus dikalahkan. Sebuah perang pun meletus. Korban berjatuhan, amat dahsyat. Tapi Amerika Serikat waktu itu tahu untuk apa.

Kalimat pertama pidato Presiden Lincoln di Makam Pahlawan Gettysburg menjawab kenapa perang itu harus terjadi—dan itu tak jauh dari pertanyaan mengapa Amerika Serikat harus berdiri: ia adalah “sebuah bangsa baru, yang dibuahi dalam kemerdekaan, dan dipersembahkan untuk cita-cita bahwa semua manusia diciptakan sama”. Perbudakan jelas bertentangan dengan cita-cita itu, dan siapa yang akan mempertahankannya dengan kekerasan harus dikalahkan.

Di Indonesia belum terdengar alasan yang sejelas itu, tapi di Aceh, tentara telah dikirim. Perang berkobar. Korban jatuh di kedua belah pihak. Apa sebenarnya sebuah “Indonesia” yang hendak dipertahankan?

Jawabannya akan menentukan hidup kita kelak. Sebuah “Indonesia” yang masih bercita-cita atau sebuah “Indonesia” yang tanpa cita-cita? Sebuah “Indonesia” yang pandai bernegosiasi atau sebuah “Indonesia” yang bagaikan preman, yang menangguk untung dari kekerasan? Sebuah “Indonesia” yang percaya kepada hak-hak rakyat atau sebuah “Indonesia” yang sedang hendak menampik demokrasi? Sebuah “Indonesia” yang patut dibanggakan atau sebuah “Indonesia” yang bahkan oleh bangsanya sendiri berhenti diacuhkan?

Aceh memang sejumlah pertanyaan.

Dikutip secara lengkap dari http://caping.wordpress.com/2003/07/21/nkri/

Share

Readers Comments (0)




INTERNASIONAL

Pencarian Pesawat MH370 (REUTERS/Australian Defence Force/Handout via Reuters)

Pencarian Bawah Laut MH370 Telan Dana Rp2,6 Triliun

Pencairan bawah laut Malaysia Airlines MH370 bisa menelan dana seperempat miliar dolar AS jika swasta dilibatkan, kata seorang ...
FOTO: Keluarga penumpang pesawat Malaysia Airlines MH 370 (AFP)

Pesawat MH370 Ditemukan, Malaysia Dikecam.

PESAWAT Malaysia Airlines (MAS) MH 370 dipastikan jatuh di Samudra Hindia bagian selatan, di lepas pantai Perth, Australia. ...
FOTO: Salah satu pesawat Malaysia Airlines MH370. (www.themalaymailonline.com)

China Kerahkan 20 Satelit Cari Pesawat Malaysia Airlines

China mengerahkan 20 satelit untuk mencari pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 yang hilang. Juru Bicara Kementerian Luar ...

FOKUS

Editor SWATT Online Heru Lianto

Memilih dan Tidak Memilih.

BESOK, warga negara Indonesia yang ingin mencoblos akan berbondong-bondong untuk pergi ke lokasi tempat pemungutan suara (TPS) di ...
FOTO: Penulis Heru Lianto

Jokowi, Prabowo, dan Rakyat Indonesia.

Yang terpenting siapa pun yang akan duduk sebagai R1 pada bulan Oktober 2014 nanti, dia harus peduli kepada ...
FOTO: Indra J Piliang, Direktur Eksekutif The Gerilya Institute. (TEMPO)

Pemilukada Bakal Serentak?

Oleh : Idra J Piliang Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengeluarkan putusan bahwa pemilu presiden dan wakil presiden, serta pemilu ...

INTERVIEW

Supandi (ist.)

Hakim Agung Supandi: Eksekusi Susno, MA Dijadikan Keranjang Sampah

Jakarta - Kasus eksekusi Suno Duadji bak sinetron. Setelah melalui perdebatan pepesan kosong, Susno akhirnya menyerahkan diri ke Lapas ...
dok detikcom

Adrianus Meliala Soal Susno: Orang yang Sengaja Melindungi, Bodoh

Jakarta - Hingga kini, terpidana dugaan kasus korupsi pengamanan pilkada Jawa Barat 2008 dan korupsi penanganan perkara PT Salmah ...
Arief Hidayat (dok.detikcom)

Hakim Konstitusi Arief: Bayar di Bawah UMR, Pengusaha Tak Bisa Dipidana

Jakarta - Pekan lalu Mahkamah Agung (MA) menghukum pengusaha Surabaya selama 1 tahun penjara karena mengupah buruh di bawah UMR. Hakim ...

HEALTHY

FOTO: Anak perempuan di Jakarta. (Heru Lianto/SWATT-Online)

Peraturan Sunat Perempuan Dicabut Kementerian Kesehatan.

Kementerian Kesehatan pada 2013 telah mencabut Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2010 yang mengatur tentang praktik sunat perempuan. Demikian pernyataan ...
FOTO: Ilustrasi Obat generik yang diprodukasi Indofarma. (TEMPO/Ayu Ambong)

Mencegah Flu Ternyata Tidak Cukup dengan Vitamin C

Studi terbaru menunjukkan bahwa mengkonsumsi vitamin C hanya sedikit membantu dalam menghadang flu. Cara paling ampuh ternyata dengan mencuci ...
Kota Medan akan menggusur perokok dengan Perda KTR (foto:Internet)

Kota Medan akan Menggusur Perokok dengan Perda KTR

Sampai hari ini, iklan rokok dan masyarakat yang merokok jumlahnya semakin bertambah. Di kota Medan, perokok masih bebas ...

TEKNOLOGI

Padi Gogo

UGM Kembangkan Agroforestri Libatkan Petani

Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan agroforestri dengan mengajak petani menanam padi gogo di lahan hutan jati. "Hal ...
Farid Wajdi

Inalum Solusi Krisis Listrik di Sumatera Utara

Sumatera Utara (Sumut) sampai hari ini masih mengalami krisis listrik. Hal tersebut ditandai dengan masih adanya pemadaman listrik ...
WhatsApp

Whatsapp Resmi Dibeli Facebook Senilai Rp 188,4 Triliun

  Layanan perpesanan lintas-platform, WhatsApp, resmi dibeli raksasa jejaring sosial, Facebook. Keduanya akan melebur mulai akhir tahun ini.  Mark Zuckerberg ...

KOMUNITAS

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangun potensi diri, seperti lewat olahraga atau kesenian. Foto : James P Pardede

POKI : Membangun Sportifitas Lewat Olahraga dan Kesenian

Untuk menggali potensi diri dan kemampuan generasi muda, dalam hal ini siswa-siswi sekolah menengah atas dan sekolah menengah ...
Rusmin Lawin bersama keluarga besar Persatuan Penyandang Cacat Indonesia Sumut di Medan.

Rusmin Lawin : Penyandang Cacat Hanya Ingin Diberi Akses

Dalam rangka merayakan tahun baru Imlek 2565, penasehat Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) Sumatera Utara Rusmin Lawin berkunjung ...
Love Indonesia

Tengok Festival Kuliner dan Budaya Betawi ala Kota ‘Durian’ di Cinnamon

Jakarta yang banyak dikenal sebagai kota 'durian' menawarkan citarasa kuliner yang eksotis dari setiap makanan tradisonalnya, terutama khas ...

AWARD

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Aditya Pradana Putra/Republika

Penghargaan Bagi SBY Apresiasi Dunia untuk Kerukunan Beragama

JAKARTA - Presiden SBY sangat menghargai perbedaan dan menghormati kehidupan antar beragama dan antar umat beragama. Karenanya, sangat ...
Kemlu

Kemlu Anugerahkan Penghargaan Adam Malik untuk Media

Jakarta - Media menjadi mitra  sangat penting dalam mendorong laju efektifitas pelaksanaan politik luar negeri dan diplomasi. Peran tersebut ...
Pada malam kunjungan ke AS untuk menerima kehormatan tertinggi Washington, Aung San Suu Kyi menghadapi tuduhan telah mengabaikan minoritas Muslim Myanmar Photo: AFP/The Age

Raih penghargaan dari Washington, Suu Kyi dikritik.

Pemimpin pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi dijadwalkan akan menerima penghargaan Congressional Gold Medal, di Washington DC, pekan ...

TIPS

kerja1

Kiat Bugar Sepanjang Hari di Kantor

Yayasan Jantung Inggris (BHF) menyimpulkan pekerja modern punya efek yang merugikan terhadap kesehatan. Untuk ini, BHF memberikan tips ...
Nicholas Saputra/REUTERS

Tips Nyaman Berwisata Ala Nicholas Saputra

JAKARTA - Banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum berwisata, terutama jika anda ingin bepergian jauh ke luar negeri. ...
Bahasa Asing (ilustrasi)/LIBRARY ESCONDIDO

Tiga Jurus Bikin Belajar Bahasa Jadi Hobi Mengasyikkan

Tidak ada ilmu yang bisa masuk ke tulang sum-sum bila si pembelajar tidak menyukainya. Bagi yang sedang berusaha ...