Monday, November 24th, 2014

NKRI

Published on March 15, 2011     Penulis :   ·   No Comments

Aceh kini bukan hanya sebuah daerah yang dirajang perang, tapi juga sejumlah pertanyaan. Pertanyaan itu semuanya berkait dengan apa sebenarnya sebuah “Indonesia”—ya, apa sebenarnya “Indonesia” yang hendak dipertahankan.

Kata para jenderal dan politikus, keutuhan wilayah itulah yang harus dibela. Tapi apa arti “wilayah” sebuah negeri? Apa pula “keutuhan” itu? Kita acap lupa “wilayah” adalah sebuah tempat dalam ilmu bumi, yang terbentang antara sekian garis lintang dan sekian garis bujur. Ia sebuah ruang. Dalam riwayatnya yang panjang manusia membela ruang itu sebagai membela milik sendiri, tapi dalam hal “Indonesia”, apa artinya “milik”?

“Milik” pada akhirnya berarti kekuasaan, dan kekuasaan itu bergerak dalam sejarah. Seandainya Raffles, orang Inggris itu, terus berkuasa di Jawa dan tak menyerahkan pulau ini kepada Belanda pada tahun 1816, mungkin Singapura yang kemudian didirikannya akan jadi bagian dari sebuah wilayah yang kini disebut “Indonesia”. Atau sebaliknya: bisa juga Yogyakarta akan termasuk sebuah negeri yang disebut “Singapura”. Perang dan perdagangan—kedua-duanya bukan sesuatu yang sakral—yang membuat dan menetapkan peta bumi. Benarkah “wilayah” begitu berarti hingga hal-hal yang lain boleh dikorbankan? Benarkah begitu penting “keutuhan”?

“Keutuhan”—kata ini pun tak pasti benar dari mana datangnya. Yang jelas, ia mencakup pengertian yang lebih luas ketimbang sekadar ketentuan tapal batas. “Keutuhan” bukan sekadar persoalan teritorial. Ia juga bisa berarti sumber alam dan keseimbangan ekologi, termasuk hutan tropis yang hijau dan biodiversitas hewan yang hidup, juga para penghuni, kehidupan sosial, dan khazanah kebudayaan mereka. Apa artinya “keutuhan” yang dipertahankan bila hutan jadi terbakar, sawah dan lumbung hancur, dan suatu masyarakat berantakan? Apa artinya “keutuhan” jika kelompok manusia yang berbeda saling membunuh dan mengusir?

Tapi mungkin juga yang hendak dipertahankan adalah sebuah “Indonesia” sebagai ingatan yang berharga. Sejak kita kanak-kanak, kita diberi rasa bangga akan sebuah negeri yang terbentang dari “Sabang sampai Merauke”, tentang orang-orang Aceh yang menyumbangkan yang mereka miliki buat Republik Indonesia yang baru berdiri, tentang kolonialisme Belanda yang justru mempersatukan pelbagai orang di Nusantara.

Kenangan itu sangat intim. Ia bagian dari identitas kita. Tapi setiap catatan dari masa lalu selalu mengandung apa yang luhur dan juga apa yang brutal, apa yang mengharukan dan juga apa yang mengerikan, bahkan memuakkan. Kenangan tentang sebuah “Indonesia” dapat berisi dokumen yang merekam niat mulia yang hendak menjabat tangan orang lain yang berbeda—niat yang membuat Sumpah Pemuda pada tahun 1928 terjadi dan sebuah generasi baru dengan ikhlas melupakan ikatan kesetiaan lama mereka, untuk membangun sebuah ikatan kesetiaan baru.

Tapi sejarah persatuan itu juga dapat berupa sejarah ketidak-ikhlasan. Bahkan sejarah kekerasan, pemaksaan, dan penyeragaman. Itulah sebabnya Bung Hatta pernah memperingatkan agar “per-satu-an” dibedakan dari “per-sate-an”.

Maka, sebuah “Indonesia” yang manakah yang hendak kita pertahankan?

Saya termasuk mereka yang akan menjawab: sebuah “Indonesia” yang dengan Aceh ada di dalamnya, tapi bukan sebuah NKRI (singkatan yang kaku dari “Negara Kesatuan Republik Indonesia”), yang memaksa Aceh untuk berada di dalamnya. Saya akan menangis bila Aceh terlepas dari Republik. Tapi saya juga akan menangis bila Aceh dibungkam oleh mereka yang datang atas nama Republik. “Indonesia” yang utuh adalah Indonesia yang punya cita-cita yang berharga untuk utuh.

Amerika Serikat adalah contoh yang tak menarik pada hari-hari ini, tapi dulu, pada pertengahan abad ke-19, ketika sebagian wilayah republik itu hendak memisahkan diri, seorang presiden yang kurus dan arif terpaksa mengirim tentara untuk memadamkan “pemberontakan” itu. Tapi bukan karena takut akan hilangnya sekian ribu kilometer persegi tanah. Ada yang lebih penting ketimbang keutuhan wilayah—yakni keutuhan sebuah cita-cita yang layak.

Maka, ketika sejumlah negara bagian di Selatan menjadi kekuatan separatis karena ingin melanjutkan perbudakan, Presiden Lincoln memutuskan: mereka harus dikalahkan. Sebuah perang pun meletus. Korban berjatuhan, amat dahsyat. Tapi Amerika Serikat waktu itu tahu untuk apa.

Kalimat pertama pidato Presiden Lincoln di Makam Pahlawan Gettysburg menjawab kenapa perang itu harus terjadi—dan itu tak jauh dari pertanyaan mengapa Amerika Serikat harus berdiri: ia adalah “sebuah bangsa baru, yang dibuahi dalam kemerdekaan, dan dipersembahkan untuk cita-cita bahwa semua manusia diciptakan sama”. Perbudakan jelas bertentangan dengan cita-cita itu, dan siapa yang akan mempertahankannya dengan kekerasan harus dikalahkan.

Di Indonesia belum terdengar alasan yang sejelas itu, tapi di Aceh, tentara telah dikirim. Perang berkobar. Korban jatuh di kedua belah pihak. Apa sebenarnya sebuah “Indonesia” yang hendak dipertahankan?

Jawabannya akan menentukan hidup kita kelak. Sebuah “Indonesia” yang masih bercita-cita atau sebuah “Indonesia” yang tanpa cita-cita? Sebuah “Indonesia” yang pandai bernegosiasi atau sebuah “Indonesia” yang bagaikan preman, yang menangguk untung dari kekerasan? Sebuah “Indonesia” yang percaya kepada hak-hak rakyat atau sebuah “Indonesia” yang sedang hendak menampik demokrasi? Sebuah “Indonesia” yang patut dibanggakan atau sebuah “Indonesia” yang bahkan oleh bangsanya sendiri berhenti diacuhkan?

Aceh memang sejumlah pertanyaan.

Dikutip secara lengkap dari http://caping.wordpress.com/2003/07/21/nkri/

Share

Readers Comments (0)




 

INTERNASIONAL

FOTO: Presiden Rusia Vladimir Putin (galleryhip.com)

Putin Ancam Kebebesan Pers.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah menandatangani racangan undang-undang (RUU) tentang Pers. Adapun salah satunya RUU tersebut mengatur  kepemilikan saham ...
FOTO: Logo Dewan Pers Indonesia (dok/ist)

Dewan Pers Diminta Berikan Sanksi Kepada Media Terkait Pernyataan Xanana

Dewan Pers diminta memberikan sanksi kepada beberapa media nasional yang terbukti melakukan kekeliruan memberitakan pernyataan Perdana Menteri Timor ...
FOTO :

Prodemokrasi Bentrok dengan Aparat Keamanan

Seiring dengan keputusan Pemimpin Hong Kong Leung Chun-ying yang menolak meletakkan jabatan seperti ultimatum massa prodemokrasi akhirnya terlibat bentrok ...

FOKUS

kritik_heru

Kritik.

Dan anda yang pro terhadap pemerintahan, tak seharusnya juga menganggapnya sebagai pembenci. Karena kritikan adalah bumbu sedap yang ...
Ilustrasi Simbol Polri-TNI (Liputan6.com)

Masalah Sepele Timbulkan Bentrok TNI dan Polri.

TNI dan Polri kembali bentrok di di Kepulauan Riau, pada Rabu 19 November 2014. Belum diketahui awal mula ...
Fasilitas rumah bagi buruh SKU dan BHL di perkebunan terkendala masalah pasokan air bersih yang dikelola perusahaan sering mengabaikan kualitas airnya apakah layak atau tidak untuk diminum.

Sulit Air di Pelosok Kebun Sawit

Hamparan gambut yang mahaluas di Kabupaten Labuhan Batu dan Labuhan Batu Utara telah beralih menjadi kebun sawit. Sepanjang ...

INTERVIEW

Mochammad Zainul Muttaqien

Redam Konflik SARA dengan Silaturahmi.

Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polisi Republik Indonesia (Polri) sebagai lembaga pelaksana kebijakan Polri mengemban tugas dan peran sebagai ...
Supandi (ist.)

Hakim Agung Supandi: Eksekusi Susno, MA Dijadikan Keranjang Sampah

Jakarta - Kasus eksekusi Suno Duadji bak sinetron. Setelah melalui perdebatan pepesan kosong, Susno akhirnya menyerahkan diri ke Lapas ...
dok detikcom

Adrianus Meliala Soal Susno: Orang yang Sengaja Melindungi, Bodoh

Jakarta - Hingga kini, terpidana dugaan kasus korupsi pengamanan pilkada Jawa Barat 2008 dan korupsi penanganan perkara PT Salmah ...

HEALTHY

Personel Satlantas Polresta Medan bagi-bagikan masker kepada penguna jalan di persimpangan Jalan Sudirman dan Slamet Riadi Medan, Kamis (9/10). Pembagian masker sebagai bentuk kepedulian Polresta mengantisipasi dampak debu vulkanik Gunung Sinabung. Foto : James P. Pardede

Polisi Bagi-bagi Masker Gratis di Medan

Dampak erupsi gunung Sinabung yang mengeluarkan debu vulkanik telah menyebar sampai ke Medan. Menyikapi hal ini, Satuan Lalulintas ...
Pengambilan sumpah dokter dilakukan setelah lulus uji kompetensi dokter secara nasional. Foto : James P Pardede

Dokter Boleh Bersumpah Setelah Lulus UKDI

Berdasar pada Undang-undang No. 20  Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran pasal 36 dan 37 ditegaskan untuk menyelesaikan program ...
Nyamuk

Hindari Kematian Akibat DBD

Kematian akibat penyakit demam dengue (DD) masih terjadi di Indonesia, salah satunya karena diabaikannya tanda bahaya atau "warning ...

TEKNOLOGI

Perwakilan OJK Regional 5 Sumatera Suryo menjelaskan keberadaan OJK di acara Seminar Pedagang Kaki Lima dan Mitra Kerja Bank di Aula Martabe, Jalan Diponegoro Medan, Minggu (19/10).

Mengenalkan OJK Lewat Sosialisasi dan Edukasi

Sebuah program bagus tidak akan berjalan sesuai dengan harapan jika sosialisasi dan edukasi tentang program tersebut tak pernah ...
Krisis Listrik membuat bamyak daerah kesulitan dalam meningkatkan produksi

LAPK : Krisis Listrik di Sumut Sudah Satu Dekade

Pemadaman bergilir kembali terjadi di kota Medan, Sumatera Utara. Dan, sembilan tahun lebih sudah pemadaman bergilir di Sumatera ...
Krisis Listrik membuat bamyak daerah kesulitan dalam meningkatkan produksi

BPK Perlu Melakukan Audit Investigasi kepada PLN

Masa 9 (sembilan) tahun krisis listrik di Sumatera Utara memerlukan audit investigasi atau pemeriksaan menyeluruh kepada PLN yang ...

KOMUNITAS

Fasilitas rumah bagi buruh SKU dan BHL di perkebunan terkendala masalah pasokan air bersih yang dikelola perusahaan sering mengabaikan kualitas airnya apakah layak atau tidak untuk diminum.

Sulit Air di Pelosok Kebun Sawit

Hamparan gambut yang mahaluas di Kabupaten Labuhan Batu dan Labuhan Batu Utara telah beralih menjadi kebun sawit. Sepanjang ...
Buruh anak masih banyak di temukan di perkebunan kelapa sawit di Labuhan Batu dan Labuhan Batu Utara

Pekerja Anak Terpaksa Putus Sekolah

Saat berkeliling ke perkebunan sawit Labuhan Batu, SWATT Online bertemu Ofe Lase, 16. Sejak masih berumur 6 tahun, ...
BURUH HARIAN LEPAS. Buruh di perkebunan sering mendapat perlakuan kurang manusiawi, terutama buruh harian lepas (BHL) yang kontrak dan statusnya tak jelas. Foto : James P. Pardede

Mengintip ‘Ladang’ Buruh Lepas di Labuhan Batu

Sejak ekonomi sawit terdongkrak lima kali lipat di awal 1990, sektor tersebut menjadi salah satu penyerap tenaga kerja ...

AWARD

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Aditya Pradana Putra/Republika

Penghargaan Bagi SBY Apresiasi Dunia untuk Kerukunan Beragama

JAKARTA - Presiden SBY sangat menghargai perbedaan dan menghormati kehidupan antar beragama dan antar umat beragama. Karenanya, sangat ...
Kemlu

Kemlu Anugerahkan Penghargaan Adam Malik untuk Media

Jakarta - Media menjadi mitra  sangat penting dalam mendorong laju efektifitas pelaksanaan politik luar negeri dan diplomasi. Peran tersebut ...
Pada malam kunjungan ke AS untuk menerima kehormatan tertinggi Washington, Aung San Suu Kyi menghadapi tuduhan telah mengabaikan minoritas Muslim Myanmar Photo: AFP/The Age

Raih penghargaan dari Washington, Suu Kyi dikritik.

Pemimpin pro-demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi dijadwalkan akan menerima penghargaan Congressional Gold Medal, di Washington DC, pekan ...

TIPS

kerja1

Kiat Bugar Sepanjang Hari di Kantor

Yayasan Jantung Inggris (BHF) menyimpulkan pekerja modern punya efek yang merugikan terhadap kesehatan. Untuk ini, BHF memberikan tips ...
Nicholas Saputra/REUTERS

Tips Nyaman Berwisata Ala Nicholas Saputra

JAKARTA - Banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum berwisata, terutama jika anda ingin bepergian jauh ke luar negeri. ...
Bahasa Asing (ilustrasi)/LIBRARY ESCONDIDO

Tiga Jurus Bikin Belajar Bahasa Jadi Hobi Mengasyikkan

Tidak ada ilmu yang bisa masuk ke tulang sum-sum bila si pembelajar tidak menyukainya. Bagi yang sedang berusaha ...