Badan Narkotika Nasional (BNN) meminjam dua tahanan dari LP wanita kelas IIA Tangerang, Jumat (2/10) lalu. Salah satu yang menonjol dari dua tahanan tersebut adalah Jat Lie Chandra alias Cece, yang tak lain terpidana mati atas kepemilikan 449.104 butir ekstasi.
Cece ditangkap 26 November 2007 lalu sekitar pukul 17.30 Wib di sebuah rumah kontrakan di Jl Kedondong Kav. 220 Blok A RT 01/06 Kel. Cinere, Kec. Limo, Depok. Cece bersembunyi di rumah itu atas bantuan rocker gaek Ahmad Albar atau akrab disapa Iyek.
Nama Cece bukan kali itu saja muncul ke media massa. Terpidana mati dalam kasus narkotika ini juga sebelumnya juga sempat membuat heboh dengan fasilitas mewah yang ada di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur, berbarengan dengan terkuaknya Hotel Prodeo bertaraf bintang milik terpidana Artalita Suryani atau Ayin.
Bukan hanya itu, seperti tidak mengenal kata jera dengan vonis mati yang diketuk hakim dalam persidangan, Cece kembali berulah dengan mengedarkan narkotika dari balik penjara dengan menggunakan empat handphone.
Penangkapan tersebut diketahui dari pengembangan Direktorat Narkotika Polda Jawa Timur yang menangkap Iwan Setiawan alias Yap Tiong Soen pada 14 Februari 2009 lalu dengan barang bukti 86,93 gram.
Satu nama yang tidak bisa lepas dari Cece, Lim Piek Kiong alias Monas yang tak lain adalah suaminya yang masuk dalam kategori gembong narkotika internasional. Meski Cece berulang kali menyebutkan barang haram itu milik suaminya, namun persidangan hanya memutus Monas dengan hukuman satu tahun penjara.
Terkait kasus tersebut, lima penyidik yang menangani kasus tersebut dicopot dari jabatannya di Direktorat IV Narkoba Bareskrim Mabes Polri. Mereka berpangkat mulai bintara hingga perwira menengah.
Dalam berita acara pemeriksaaan (BAP), Monas disebutkan bukan sebagai bandar narkoba 1 juta ekstasi di Apartemen Taman Anggrek. Monas hanya disebut sebagai pecandu dan kepemilikan sabu sebanyak 1,5 gram sehingga hanya divonis satu tahun.
Deputi Penindakan BNN, Irjen Benny J Mamoto mengatakan, Cece di-‘bon’ sejak Jumat 2 November 2012 kemarin untuk melengkapi kasus yang tengah ditangani BNN.
“Ada kasus yang tinggal P21 dan kita membutuhkan keterangan dia (Cece-red),” kata Benny saat dihubungi detikcom, Minggu (4/11/2012).
Saat dijemput, Cece sendiri bingung dan tidak mengetahui apa-apa terkait penjemputannya itu. “Saya nggak ngerti apa-apa. Dan kenapa saya dibawa,” kata Tjetje kepada wartawan.
Ada yang menarik saat petugas menjemput Cece keluar dari kamar tahanannya, “Dia selalu menyebut barang yang dulu dia ditangkap bukan miliknya, tapi suaminya,” kata Kepala Humas BNN, Kombes Sumirat Dwiyanto, saat berbincang dengan detikcom.
Dalam beberapa pemberintaan beberapa media, kasus yang melibatkan Cece diduga syarat dengan rekayasa dengan kartel narkotika internasional. Kasus ini pun yang sempat mencuat dan menjadi kontroversial tahun 2009 lalu. Selain itu, Monas sendiri digadang-gadang mengantongi aset hingga trilunan rupiah untuk mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.
Cece saat ini berada di tangan BNN untuk pelengakapan berkas penyidikan tindak pidana narkotika. Namun, menjadi tanda tanya, apakah ada kaitan dengan kasus baru yang tengah diselidiki BNN? [dtc]