Mahasiswa Rusak Empat Mobil Dinas, Tutup Jalan Berjam-jam, Polisi Diam Saja

Mahasiswa merusak sedikitnya empat mobil dinas saat unjuk rasa memperingati satu tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di tiga tempat sepanjang Rabu (20/10). Di pintu I Universitas Hasanuddin, Jl Perintis Kemerdekaan, demonstran merusak dua mobil, dua lainnya ikut dirusak di depan Gedung DPRD Makassar, Jl AP Pettarani dan depan Universitas Indonesia Timur (UIT), Jl Rappocini.

Dua mobil yang dirusak di pintu I Unhas, salah satunya adalah mobil milik Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan. Mobil Isuzu Panther warna silver ini dihadang mahasiswa saat melintas dari timur Jl Perintis Kemerdekaan.
Mobil tersebut langsung dihujani batu hingga kaca bagian belakangnya hancur. Tak ada korban cedera dalam insiden ini. Tiga penumpangnya selamat dari kebrutalan aksi mahasiswa.

Satu mobil dinas lainnya menyusul dirusak saat melintas di pintu I. Mahasiswa langsung menghadang dan melempari kaca bagian depannya hingga hancur.
Kedua mobil tersebut sempat disandera mahasiswa sebelum dibebaskan petugas keamanan kampus beberapa saat kemudian.

Aksi mahasiswa Unhas berlangsung dari pukul 10.00 Wita hingga pukul 16.30 Wita. Ironisnya, selama aksi berlangsung tak satupun polisi yang melakukan pengawalan.
Diduga, polisi menghindari benturan susulan dengan mahasiswa pascabentrok sehari sebelumnya. Selain merazia mobil dinas, mahasiswa juga melakukan sweeping terhadap anggota polisi.
Sekitar pukul 13.00 Wita aksi makin tak terkendali. Mahasiswa mulai menutup jalur protokol. Mereka menyandera sejumlah truk dan memalangnya di tengah jalan.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga menggunakan batu dan kayu untuk memblokir jalan raya di kedua jalur. Akibatnya, kemacetan panjang hingga radius lima kilometer terjadi berjam-jam. Dalam aksi pemblokiran jalan siang kemarin, sempat terjadi beberapa kali insiden. Mahasiswa nyaris terlibat keributan dengan sejumlah pengendara roda dua yang melintas.

Aksi tutup jalan di beberapa tempat mulai memicu kemarahan masyarakat. Masyarakat yang terjebak macet berjam-jam, beberapa kali terlibat adu mulut dengan demonstran.
Rudi, seorang pengguna jalan yang nyaris dihakimi mahasiswa di pintu I Unhas, karena memprotes penutupan jalan, mengatakan, sudah jenuh dengan kelakuan mahasiswa yang tidak memerhatikan kepentingan orang banyak. Menurutnya, aksi tutup jalan ini adalah aksi tidak terpuji dan sudah sangat meresahkan.
“Boleh tanya semua orang, pasti mereka tidak setuju dengan aksi ini. Silakan demo, itu wajar. Tapi kalau sudah sampai tutup jalan berjam-jam, wah itu sudah salah. Kami juga bisa marah,” tukas Rudi.

Senada dengan Rudi, Alimin, pengguna jalan yang tertahan hampir dua jam di depan pintu I Unhas mengaku geram. Ia mengatakan, jika kondisi seperti ini terus-terusan terjadi, mahasiswa bisa berhadapan dengan masyarakat.
Apalagi, aksi sudah menjurus brutal. Tidak lagi memerhatikan kepentingan orang banyak. “Malah, pengguna jalan juga ikut jadi sasaran. Saya tadi nyaris dipukul. Untung diamankan petugas. Ya kalau ini terus-terusan terjadi, saya yakin masyarakat pada akhirnya akan melawan,” ujar Alimin.

Ia menilai, kemurnian perjuangan mahasiswa sudah keluar jauh dari rel. Di mana-mana masyarakat resah kata dia.
Maret 2010 lalu, mahasiswa sempat terlibat perang batu dengan masyarakat saat insiden penyerangan Sekretariat HMI di Jl Botolempangan. Insiden yang sama juga terjadi saat kerusahan yang melibatkan polisi di Kampus UNM.
Saat itu, sejumlah masyarakat sipil terlibat bentrokan, karena jenuh dengan aksi tutup jalan yang dilakukan mahasiswa.
Sementara itu, di waktu yang hampir bersamaan kemarin, dua kendaraan dinas yang melintas di Jl AP Pettarani (depan kantor DPRD) dan depan Kampus UIT, Jl Rappocini, menjadi sasaran amukan demonstran. Kedua kendaraan itu dirusak dan dilempari hingga ringsek.

Di Jl AP Pettarani, mahasiswa juga beberapa kali terlibat adu mulut dengan pengguna jalan. Pengguna jalan yang tertahan lama, meminta agar jalur dibuka. Namun, para demonstran menolak dan menutup hampir seluruh badan jalan.

Akibatnya, pengguna jalan marah dan nyaris terlibat keributan dengan mahasiswa.
“Bukan apanya pak, kami ini punya aktivitas. Kami mau cari makan. Mahasiswa justru tutup jalan. Wajarlah kalau kami kesal,” ucap Dg Bani, seorang pengguna jalan di AP Pettarani.
Dg Bani mengaku malu melihat kelakuan mahasiswa yang menjurs brutal itu. “Saya saja cuma tamatan SMP, tapi tahu etika. Ini justru mahasiswa yang brutal. Katanya orang berpendidikan. Kalau orang berpendidikan seperti itu, mending anakku tidak usah kuliah,” ujar Dg Bani dengan nada geram.

Marlina, seorang pegawai negeri sipil di Jl AP Pettarani, mengatakan, aksi-aksi mahasiswa sudah berdampak merugikan orang banyak. Masyarakat malah sekarang sudah jenuh dan marah.
“Kami ini sudah bosan. Sedikit sedikit macet. Kalau begini terus akhirnya masyarakat akan marah dan melawan,” ucap Marlina.

aksi demonstran

-Merusak empat mobil dinas, masin-masing dua di kampus Unhas, satu di depan gedung DPRD Makassar dan satu unit di depan Kampus UIT, Jl Rappocini.
-Membakar foto Presiden SBY di depan Kampus Universitas 45, Jl Urip Sumoharjo
-menyandera sejumlah truk di pintu I Unhas untuk memblokade jalan.
-menutup jalan berjam-jam hingga terjadi kemacetan panjang di Jl Perintis Kemerdekaan.
-Beberapa kali terlibat adu mulut dan nyaris ribut dengan pengguna jalan
-merazia anggota polisi

Sumber: beritakotamakassar.com